Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerita rumah tangga

Rumah yang napak

Suatu hari di perjalanan pulang kantor yang pada hari itu kebeneran suami lagi ngantor di Harsono dan si ekeu nebeng dan bebas riding, yeay, kangen begini, anter jemput pergi pulang kerja Sampailah kami di Pondok Indah yang banyak iklan apartemen dan; A : A, beli itu yuk satu *sambil nunjuk salah satu iklan apartemen Aa : Maunya rumah yang napak ah A : Hah? Yaudah beli yang paling bawah brarti Aa : Mau yang tanahnya juga punya sendiri, kalo gitu kan bingung punya rumah tapi ga punya tanah Saat itu mulai gerimis, saat hujan, saat maqbul buat berdoa Ya Allah, kami ingin punya rumah, rumahnya yang napak di tanah, ga perlu besar banget Ya Allah, yang cukup luas aja untuk keluarga kami, yang ada halamannya, ada tamannya, ada kolam renang, banyak kamarnya, ada garasi mobilnya,  Aamiin Sholawatin aja dulu rumah-rumah bagus di pondok indah itu, siapa tau milik 

cerita 28 Februari 2016

Tepat setahun lalu, 28 Februari 2016 Setelah mungkin 2 tahun gak pernah ketemu lagi dari terakhir aku ngantor di kantor lama no kontak, no calling canggung iya Sore ini, ba'da Ashar janjian sama mr ketemu di rumah Ummi yang awal rencananya katanya Ummi mau bikin ala drama gitu untuk nemuinnya tapi berhubung si kami udah saling tau orangnya jadilah drama ala-ala dibatalkan Qodarullah, motor dia baru banget parkir dan si aku baru juga sampai depan rumah Ummi entah apa yang kami lakukan saat itu bahkan sepertinya saling tatap pun enggak Biar ga gorgi ga jelas di depan, bersegeralah si aku masuk aja ke rumah Ummi dan resenya, Ummi yang minta untuk aku yang manggil si dia untuk masuk juga Waktu itu deg-deg-an ga yaaa hmmm lebih tepatnya agak bingung aja sih  Bingung bersikap gimana dan mau apa Jadilah Ummi dan Suaminya yang jadi perantara yang begitu aktifnya Waktu itu, mau manggil aja bingung manggilnya apa masih teteh dan bapak persis kayak panggilan di kantor ...

Jadi istri taat Suami

Sungguh, hal pertama yang sangat aku takutkan saat akan menikah adalah ini Bukan takut dengan perubahan status Bukan takut membebani Tapi takut tidak amanah, sungguh Takut tidak bisa menjadi istri sesuai ingin Takut jauh dari kriteria istri sholehah Takut menjadi si penuntut Khawatir akan ketaatan pada suami Jikalah pada suatu hari ada kata "Jadilah istri yang taat pada suami" walau sebab hanya sekadar tidak bisa standby saat dijemput misalnya ah, ternyata ini perkara besar bermaksud menasehati,  tapi ada emosi dibalik itu sungguh, merasa menjadi istri paling berdosa iya, takut sungguh hanya dengan perkara sepele itu saja bisa di cap menjadi istri yang tidak taat suami Astagfirullah... Saat itu, mungkin aku akan diam lebih baik rasanya untuk saling menenangkan emosi tapi saat ada satu kata aja yang terucap, saat itu juga aku tidak akan sanggup lagi berkata apalagi menahan air mata kenapa? ya aku si penakut ini sungguh takut dengan gambaran dosa-dos...